Senin, 27 Oktober 2008

Curhat Kerja

Terdengar dering ringtone dari HP butut milik Cak ZhudhrunH, dengan tergopoh-gopoh segera diterimanya panggilan itu.

“Assalamu’alaikum”

“Waalaikum salam Cak, aku Sentul Cak, sampeyan ada di mana ?”

“ Aku nang omah Tul, opo’o ?”

“Aku ngebel rumah aja yo Cak, ngirit pulsa.”

“Yo, tak tunggu Tul.”

Sesaat kemudian terdengar dering telpon rumah Cak ZhudhrunH.

“Hallo Cak.”

“Iyo Tul onok opo.”

“Saya mau minta tolong Cak masalah kerjaan saya.”

“Memangnya aku DISNAKER kok minta tolong aku ?”

“He... he.... Cak-Cak dari pada aku nuruti temen-temenku ndatangi paranormal, kan mending aku ngebel sampeyan aja Cak.”

“Ngawur ae, aku mbok padakno karo dukun tah ?”

“Hoahaha.... tapi bener lho Cak, sekarang ini aku lagi titik kulminasi tertinggi, lagi ruwet pikiranku Cak, sumpek pek pek ..... !!!”

“Oalah Tul Sentul hidup sekali aja kok dibuat sumpek, lha kalo sumpek ya segera cari obatnya to !”

“Makanya itu aku ngebel sampeyan Cak, gini lho aku tiap hari itu kerja diuber-uber target, manajerku apalagi, kok kayaknya engga senang banget sama aku, kerjaanku ada saja salahnya, apalagi kalo marah wis kalo ngomong seenaknya sendiri bahkan di forum rapat juga nyerang langsung. Malah terakhir keluar ancamannya kalo kinerjaku engga ada perbaikan bakalan diturunin grade kepegawaianku.”

“Tapi tiap bulan tetap gajian kan ? Tunjangan-tunjangannya juga tetap dapat kan ?”

“Kalo itu ya iya lah Cak, masak ya iya dong ! Mo pinter aja harus sekolah masak sekodong ?”

“Lha itu dia, disyukuri dulu, meskipun dimarahi, meskipun dikejar-kejar target, tapi gajian juga tetap utuh kan, ada yang diputar untuk belanja bulanan. Lha sedulur-sedulur kita yang lain banyak yang blom punya kerjaan, engga punya usaha, buat makan sekali sehari aja juga blom tentu ada. Coba bandingkan sama dirimu, kerjaanmu sudah mapan ‘plat merah’ lagi.”

“Gitu ya ?”

“Iya, di balik semua kesulitan, kesumpekan dan keruwetan yang engkau rasakan, pasti masih banyak yang bisa kau syukuri, tinggal bagaimana kita mencari hal-hal yang bisa kita syukuri itu. Wistalah, kalo kamu aja sambatannya seperti itu, coba kamu lihat aku, mestinya sambatanku melebihi kamu kan Tul, ha... ha.... ha....”

“Iya Cak, kata-kata sampeyan bener juga dan kau sudah agak terang sekarang ini, tapi itu lho cak kalo ingat kelakuan manajerku yak kayak gitu, wuih mangkel aku Cak, mentolo nyeprok ae !”

“Sekarang gini aja Tul, aku mo nanya, dalam melaksanakan pekerjaanmu sesuai tugas, tanggung jawab dan kewenangan yang melekat pada posisi atau grade kepegawaianmu sekarang ini kamu merasa sudah sesuai prosedur yang berlaku atao blom ?”

“Ya sudah Cak, bahkan menurutku aku sudah melaksanakan dengan sungguh-sungguh, bukannya nyantai, hasilnya pun signifikan Cak, tapi memang blom mencapai target.”

“Menurut penilaianmu sendiri, prestasimu itu gimana, di bawah standar, biasa aja sesuai standarnya ato malah plus, di atas standar ?”

“Ya plus dong Cak, malah ada temen-temen yang kinerjanya ada di bawahku.”

“Ya sudah toh kalo gitu, ngapain bingung, ngapain juga kamu sumpek ngadepin manajermu itu, santai aja.”

“Hawanya itu lho Cak, kalo ketemu aku kok panas terus.”

“Halah, engga usah direken, engga usah dihiraukan, kalo kamu menghiraukan, maka berarti kamu masuk polanya dia. Nah kalo terus-terusan seperti itu nantinya malah potensimu engga bisa tereksplor secara bebas, terhambat, yang terjadi nanti malah kinerjamu bener-bener jelek.”

“Trus gimana caranya biar aku bisa nyantai ngadepin dia Cak ?”

“Gampang itu, coba sekarang misalnya kamu pada posisinya sebagai manajer yang juga dikejar target oleh kepala kantor, apa kamu sebagai manajer juga menekan anak buahmu untuk mencapai target ?”

“Ya jelas Cak, kalo itu aku bisa ngerti lah. Tapi kenapa kok aku yang jadi sasaran, trus kenapa juga kata-katanya kasar nyakitin ati.”

“Nah itu dia, berati malah kamu engga usah mempermasalahkan sikapnya, karena permasalahan yang sebenarnya ada pada dia, si manajermu itu.”

“Lho kok bisa Cak ?”

“Ya bisa, sekarang nyantai aja, anggap saja kalo manajermu itu orang yang rentan stress sehingga beban tanggung jawab yang harus dipikulnya membuatnya tidak stabil sehingga perlu baginya untuk melampiaskan stressnya dengan berkata-kata kasar dan sikap lainnya yang seakan tidak terkontrol. Gimana menurutmu ? Malah kasihan kan ?”

“Trus yang kedua, sebenarnya kamu itu termasuk yang berprestasi, sehingga manajermu itu merasa hasud, gengsi untuk mengakui prestasimu dan menutupinya dengan bersikap seperti itu ke kamu. Anggap saja begitu. Jiwanya kerdil kan ? Kasihan juga kan ?”

“Iya Cak. Kalo aku ngerasakan yang seperti sampeyan omongkan itu ya aku malah kasihan sama dia, trus aku sekarang gimana Cak ?”

“Ya... tugasmu cuman satu, maafkan dia. Setel hatimu untuk bisa menerima apa pun sikapnya kepada dirimu, setel hatimu untuk memafkan dia.”

“Rasanya akau bisa Cak seperti itu.”

“Ya baguslah kalo gitu. Karena begitu kamu memaffkan dia, ketika menerima perlakuannya hatimu tidak terbawa emosi yang dipancarkannya, hatimu tetap tenang, wajahmu tetap cerah, insya Allah dia akan terpengaruh menjadi lebih lembut. Dia akan ikut polamu, jangan samapi kebalik, kamu yang mengikuti polanya karena terprovokasi sikapnya.”

“Nah setelah kamu bisa memaafkannya, tugasmu berikutnya adalah mendoakan kebaikan untuknya, mohonkan ampunan. Lha timbang kamu cuman nggerundel aja, cuman ngerasani aja, sudah enga ada gunanya berdosa lagi, kan mending doakan aja dia. Nantinya kan kembali ke dirimu sendiri doa itu.”

“Wah rasanya aku bisa nyambung Cak dengan omongan sampeyan, wis agak lega hatiku sekarang. Kemarin-kemarin sumpekku itu sampai ke bawa ke rumah. Aku juga jadi temperamental, istriku sering jadi sasaran kemarahanku, anakku sering aku semprot, padahal kalo kurenungkan lagi pemicunya hanyalah hal-hal sepele yang tidak prinsip.”

“Wow engga boleh itu Tul. Ketika kamu sudah menikah, sudah punya anak, semua itu menjadi tanggung jawabmu. Jangan sampai beban kerjamu membuatmu kehilangan kelembutan kepada keluarga. Banyak kan para suami yang bilang ke anaknya, ‘Papa ini capek pulang kerja, cari uang buat kalian !!!’. Jangan sampai ya ngomong seperti itu. Kalo engga mau capek menafkahi keluarga ya engga usahlah menikah apalagi punya anak. Makanya guru ngajiku bilang kalo mau optimal ketika berangkat kerja pasrahkan keluarga di rumah sama Allah. Yang diingat selama perjalanan sampai di tempat kerja ya Allah saja sama mikir kerjaan juga boleh. Tapi kalo dah pulang kerja, ya sudah kerjaannya jangan dipikirin lagi, ingat Allah terus sama ingat keluarga.”

“Trus masalah targetku bagaimana Cak, aku kasih pegangan dong Cak biar bisa lancar !”

“Hush, padane dukun ae, aku mbok jaluki cekelan. Wis gampang, nanti tak doakan biar targetmu tercapai ya. Gampang wong tinggal doa aja kok, tapi ojok lali kalo targetmu terpenuhi traktirannya tak tunggu lho.... hoa... ha... ha....”

“Beres Cak, tenang aja.”

“Tapi yang terpenting sebenarnya gini Tul, katanya guru ngajiku, kamu jangan ngandalkan dirimu, andalkan aja gusti Allah, mohon kemudahan kepadanya dan berbaik sangkalah pada gusti Allah bahwa Allah itu sayang sama kamu, selalu memberi kemudahan ke kamu. Hatimu harus pasrah srah-srah alias tawakal di awal ikhtiarmu. Tetapi akal pikiranmu harus berusaha seoptimal mungkin dalam ikhtiarmu sesuai referensi keilmuanmu dalam mencapai targetmu. Ikhtiarmu pun hakikinya Allah juga yang menggerakkan. Kalo kamu mempunyai keinginan, kesungguhan dan semangat untuk ikhtiar dalam mencapai target, insya Allah itulah tanda-tanda keberhasilanmu.”

“Insya Allah Cak.”

“Satu lagi Tul, kata guru ngajiku juga pernah bilang kalo kita ini tidak diperintahkan mencari rejeki tapi diperintahkan beramal sholeh. Karena itu dalam bekerja, sejak awal niatkan aja untuk beramal sholeh lillahi ta’ala, insya Allah barokah. Engga usah mikirin hasilnya, yang penting laksanakan tugas dan tanggung jawab kita sebaik-baiknya dan istiqomah. Karena ikhtiar itulah yang dituntut Allah kepada kita, bukan hasilnya, sehingga ikhtiar itu lebih afdhol dibandingkan hasilnya. Ibadah lebih utama dibandingkan pahalanya dan sebagainya.”

“Iya ya Cak, sering lho kita ini malah lebih serius kepada haknya hawa nafsu kita, bukannya fokus pada yang dituntut Allah pada diri kita. Apalagi kalo ramadhan kemarin, ngitung pahala terus, ibadah wajib pahalanya sekian, ibadah sunah sekian, genap satu bulan dapatnya sekian-sekian.”

“Satu hal lagi Tul, pengalaman pribadi yang mungkin ada gunanya. Misalnya kita dah kerja dengan baik sesuai target pekerjaan kita masing-masing bahkan mungkin melebihi dan mestinya kita dapat reward untuk itu, tetapi ternyata dengan berbagai alasan reward itu tidak diberikan oleh bos kita atau pimpinan kita dengan berbagai alasan dan kita tidak punya kapasitas untuk menuntutnya, maka kalo aku, yo wis tak pasrahkan aja ke gusti Allah, tak niatkan shodaqoh nang bosku. Wah berarti sugihan aku to, wong bosku tak shodaqohi.”

“Bener-bener Cak, setuju, walau kita tidak kaya secara materi tetapi hati kita harus kaya !”

“Gitu dong ! Piye, masih sumpek ?”

“Alhamdulillah dah terang Cak, suwun. Doakan aku yo Cak ZhudhrunH.”

“Beres, tak dongakno, namamu mesti tak cangking kok kalo aku lagi berdoa, aku juga minta tolong doakan ya Tul ?”

“Iya Cak, donga dinonga. Assalmu’laikum”

“Waalaikum salam.”

Demikianlah, Cak ZhudhrunH meletakkan gagang diiringi rasa syukur kepada gusti Allah bahwa dia baru dapat pelajaran lagi tentang kehidupan, yaitu di mana pun juga, dalam kondisi apa pun dan posisi apa pun ternyata masalah selalu ada. Sawang sinawang. Tinggal bagaimana menyikapinya dengan tidak lepas menautkan hati pada sumber kehidupan yaitu gusti Allah. Suatu pelajaran dari Sentul, yang menyegarkan ingatan kembali dari apa yang telah pernah dilalui Cak ZhudhrunH diirngi doa semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam beramal sholeh mengemban amanah kewajiban untuk menafkahi keluarganya.

Rabu, 22 Oktober 2008

Terjerat Panah Asmara

Tatkala Cinta Berbalut Duka

Dunia seakan kelam

Gelisah, resah, hampa yang terasa

Kosong…senyap… dan tak ada Gairah…

Seakan…tiada harapan yang didamba disana..

Dunia sekeliling seakan menggigit tajam…

Benda-benda matipun tak mau peduli keresahan hati…

Semua hanya karena kekosongan Cinta…

Namun,..tatkala cinta terjerat panah asmara

Dunia seakan ceria, tertawa dan tersenyum manis

Ketenangan.. kejernihan… ketabahan… berbalut sutera

Semua hanya karena Cinta sedang bersemi….

Mungkin,..inilah perasaan seseorang seperti aku…

Bila jauh dariNya…dunia seakan gelap gulita

Mataku melihat, namun aku buta

Telingaku mendengar, namun pekak

Mulut terbuka, namun bisu

Ini semua karena apa….? KARENA JAUH dari CintaNya

Manusia yang cerdas sadar akan arti Cinta..

Ia tak akan pernah melepaskan Cinta hakiki..

Cinta tanpa harapan duniawi…

Keutuhan Cinta kekal hanya tujuan Ukhrawi..

Karena disanalah cinta itu akan kekal abadi

Akh..kukisahkan pengalamanku bercinta denganNya

Tiada yang lebih menjamin kekekalan Cinta selain berpegang teguh pada AlQuran dan Sunnahnya.

Jangan pernah sedetikpun melepaskan ikatan cinta itu

Cinta manusia semakin dikejar, semakin ia menjauh

Cinta kepadaNya semakin dikejar semakin ia mendekat kencang

Yah….semakin mendekat dan selalu membaca, mentadabburi kitabNya

Semakin dirimu melekat panah asmaraNya

Semakin kau tak memperhatikan kitabNya

Maka cinta asmaraNyapun seakan tanpa asa dan rasa

Raihlah, dan teguhlah pada cintamu…

Wassalamu’alaikum. Cairo , 22 Oktober 2008. Rahima

Senin, 20 Oktober 2008

MANGKUK CANTIK, MADU, dan SEHELAI RAMBUT

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar r.a, ‘Umar r.a, ‘Utsman r.a, dan ‘Ali r.a, bertamu ke rumah ‘Ali r.a. Di rumah ‘Ali r.a, istrinya yaitu Fathimah r.ha (putri kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abu Bakar r.a berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar r.a berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Utsman ra berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Ali ra berkata, “Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit daripada meniti sehelai rambut”.

Fathimah ra berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali mahramnya itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril ‘alahis salam berkata, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, meyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Seorang yang suka membaca Al-Qur’an itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik, mempelajari dan menghayati isi Al-Qur’an bersama-sama itu lebih manis dari madu, memelihara Al-Qur’an di dalam dada hingga akhir hayat itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

Hati yang cantik itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik, mendapatkan lelaki (wanita) yang sholih (sholihah) itu lebih manis dari madu, mendidik anak menjadi generasi terbaik pada zamannya itu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.