Rabu, 05 November 2008

SETITIK AIR BAGI YANG TERKENA PENYAKIT MATERIALISME

Abdullah bin Al-Faraj adalah seorang yang tekun

beribadah dan dikenal sebagai orang yang shalih. Dia
hidup pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid.

Suatu ketika Abdullah bin Al-Faraj mempunyai
barang-barang yang harus dipindahkan dari satu tempat
ke tempat yang lain di dalam rumahnya. Untuk
mengerjakan hal tersebut, ia memerlukan seorang
pekerja serabutan. Maka ia pun segera pergi ke pasar
untuk mencarinya. Setelah mencari ke sana ke mari di
dalam pasar, akhirnya ia menemukan seorang pemuda
berwajah pucat pasi sedang membawa keranjang besar dan
sekop. Pemuda itu mengenakan jubah dan selembar kain
sarung yang keduanya terbuat dari bulu domba.

Maka
Abdullah menghampiri pemuda tersebut dan bertanya
kepadanya, “Maukah engkau bekerja untukku?”“ya,” jawab pemuda itu singkat.

“Berapa imbalannya yang kau minta?” tanya Abdullah
kepadanya.

“Satu seperenam dirham,” jawab pemuda itu singkat.

“Baiklah kau dapat bekerja untukku” kata Abdullah.

Tiba-tiba pemuda itu berkata,”Ada satu syarat!”

“Apa syarat yang engkau minta?” jawab Abdullah.

“Bila waktu shalat dzuhur telah tiba dan mu’adzin
telah pula mengumandangka adzan, aku akan keluar untuk
mengambil air wudlu dan kemudian
menunaikan shalat
berjama’ah di masjid, setelah itu aku kembali
melanjutkan pekerjaanku. Demikian juga bila telah tiba
waktu shalat ashar,” jawab pemuda itu tersebut.

“Ya boleh,”Jawab Abdullah singkat.

Setelah berkata demikian, Abdullah bin Al-Faraj pun
mengajaknya pulang ke rumah untuk memulai
pekerjaannya. Sesampainya di rumah, pemuda itu pun
segera bekerja memindahkan barang-barang dari satu
tempat ke tempat yang lain. Dia bekerja dengan rajin
dan tidak pernah sedikitpun mengajak Abdullah
berbicara. Ketika adzan dzuhur telah dikumandangkan,
pemuda tadi lalu berkata kepada Abdullah, “Wahai
Abdullah Mu’adzin telah mengumandangkan adzan!”

“Silahkan” kata Abdullah kepadanya.

Pemuda itu pun segera keluar menuju ke masjid untuk
segera menunaikan shalat dzuhur berjama’ah bersama
kaum muslimin termasuk Abdullah. Ketika keperluannya
di masjid sudah selesai, pemuda itu segera kembali
pergi kerumah Abdullah bin Al-Faraj. Di sanapun ia
bekerja kembali dengan rajin sepanjang siang.

Demikian pula ketika adzan Ashar berkumandang, pemuda
itu meminta izin dan Abdullah mempersilakannya shalat
berjamaah. Sampai akhirnya sore menjelang dan pemuda
itu pun mendapatkan upahnya.

Selang beberapa hari kemudian, Abdullah bin Al-Faraj
membutuhkan lagi seorang pekerja serabutan. Istrinya
pun berkata kepadanya, “Carilah kembali pemuda yang
pernah bekerja kepada kita, karena lewat pekerjaannya
itu dia telah banyak memberikan nasihat kepada kita !”

Mendengar saran istrinya tersebut, Abdullah segera
pergi kepasar. Sesampainya di pasar, dicarinya pemuda
berwajah pucat pasi yang beberapa hari yang lalu
pernah bekerja di rumahnya. Namun setelah ia
mencarinya kesana kemari, tak ditemukannya pemuda itu.
Maka bertanyalah Abdullah kepada orang-orang dipasar
perihal pemuda tersebut.

Mereka yang ditanyai oleh abdullah menjawab, “Mengapa
Anda menanyakan si pemuda pucat yang celaka itu? Dia
datang kesini hanya setiap hari sabtu dan
kedatangannya itu pun hanya sekedar untuk duduk saja
hingga semua orang kembali ke rumah masing-masing”.

Mendengar jawaban mereka, Abdullah memutuskan untuk
kembali ke rumahnya dan memutuskan akan mencarinya
lagi pada hari sabtu.

Pada hari sabtu, Abdullah bin Al-Faraj pergi ke pasar
untuk mencari pemuda tersebut. Ternyata memang benar
kata orang-orang, pemuda itu memang berada di sana.
Segeralah Abdullah bin Al-Faraj menghampirinya dan
menanyainya, “Maukah engkau bekerja lagi untukku?”

“Aku yakin Anda telah mengetahui berapa upah dan
syarat-syarat yang kuajukan kepada Anda,” jawab pemuda
itu.

“Mengenai hal tersebut, aku telah memohon petunjuk
kepada Allah,” kata Abdullah.

Pemuda itu pun berdiri dan mengikuti Abdullah bin
Al-Faraj ke rumahnya. Setelah sampai di rumah, pemuda
itupun segera bekerja dengan rajin sebagaimana dulu
pernah diekrjakan untuk Abdullah bin Al-Faraj. Sama
seperti dulu pula, ketika adzan dzuhur dan ashar
berkumandang, pemuda itupun minta izin kepada Abdullah
untuk menunaikan shalat berjama’ah di mesjid.

Setelah sore, maka Abdullah pun memberikannya upah
sebesar yang telah disepakati. Ternyata Abdullah puas
terhadap pekerjaan pemuda tersebut akan diberi upah
sekaligus tipsnya, pemuda itu mengambil upahnya dan
menolak tips yang diberikan oleh Abdullah bin
AL-Faraj.

Beberapa waktu kemudian, Abdullah membutuhkan tanganya
kembali. Dan sesuai dengan pengetahuan yang ia
ketahui, maka Abdullah pun mencarinya di pasar pada
hari sabtu. Tetapi setelah dicarinya ke sana – ke mari
di sekitar pasar, pemuda sederhana itu tidak
ditemukannya. Lalu, ia pun bertanya kepada orang-orang
yang berada di pasar tentang pemuda itu, dan salah
seorang menjawab, “Dia sedang sakit.”

Orang itupun menambahkan, “Pemuda itu tiap sabtu
selalu datang ke pasar ini dan dia selalu berkerja
dengan imbalan satu seperenam dirham. Dengan uang satu
seperenam dirham itulah dia dapat makan setiap hari.
Dan kini dia sedang menderita sakit.”

Maka Abdullah pun menanyakan alamat rumah tersebut
kepada orang itu. Setelah orang itu memberikan
alamatnya, Abdullah segera menuju ke kediaman pemuda
yang sedang ia cari tersebut. Ternyata pemuda itu
tinggal si sebuah rumah milik seorang wanita yang
telah lanjut usia. Ketika wanita lanjut usia itulah
yang ditemui oleh Abdullah pertama kali, maka Abdullah
pun bertanya kepadanya, “Benarkah di sini kediaman
seoran pemuda yang suka melakukan perkejaan serabutan
?”

“Sejak beberapa hari ini dia menderita sakit,” jawab
wanita renta itu dengan suara tuanya.

Abdullah pun meminta izin kepada wanita tua itu untuk
menemuinya. Wanita renta itu segera mempersilahkan
Abdullah masuk dan menunjukkan tempat pemuda tersebut
berada. Ternyata benar, pemuda berwajah pucat pasi itu
sedang berbaring sakit keras dengan berbantal sebuah
batu bata.

“Assalamu’alaikum,” sapa Abdullah kepadanya.

“Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh,”
jawab pemuda tersebut.

Abdullah segera bertanya kepadanya,”Adakah yang bisa
kubantu untukmu?”

“Ya, jika Anda bersedia,” kata Abdullah.

“Jika aku telah meninggal dunia nanti, tolong jualkan
sekop ini. Tolong cucikan jubah bulu dan kain sarung
ini. Lalu gunakan kedua akinku ini untuk mengafaniku.
Sobeklah saku jubah ini kerena didalamnya ada sebuah
cincin. Tanyakan kapan Khalifah Harun Ar-Rasid keluar
dari istananya. Bila Anda sudah mengetahuinya,
hadanglah dia dan ajaklah dia berbicara serta
tunjukanlah cincin itu kepadanya, niscaya dia akan
memanggil Anda. Jika Anda sudah menghadapnya,
serahkanlah cincin itu kepadanya. Ingat ! Ini harus
dilakukan setelah aku dimakamkan nanti!” kata pemuda
itu.

“Ya,” jawab Abdullah menyanggupinya.

Kemudian pemuda itu sakit keras selama beberapa waktu
dan akhirnya meninggal dunia. Abdullah bin Al-Faraj
pun segera menunaikan apa yang diwasiatkan olehnya;
menjual sekopnya kemudian mencuci jubah dan sarungnya
serta menggunakan kedua kain itu sebagai kain kafan
jenazahnya. Setelah jenazah pemuda itu dimakamkan,
maka Abdullah pun aktif mencari informasi kapan
Khalifah Harum Ar-Rasyid keluar dari istananya.

Setelah mencari-cari tentang hal tersebut, akhirnya
tahulah Abdullah kapan Khalifah akan keluar dari
istananya. Maka pada hari yang telah
dinanti-nantikannya itu, Abdullah segera mencari jalan
yang akan dilalui oleh sang Khalifah dan duduk di tepi
jalan tersebut. Akhirnya terlihatlah rombongan
Khalifah Harun Ar-Rasid semakin dekat dengan tempat ia
duduk. Ketika sang Khalifah melintas di depannya,
Abdullah segera berteriak,”Wahai Amirul Mukminin, aku
mempunyai sebuah titipan untuk tuan !”seraya dia
tunjukkan cincin milik pemuda itu.

Ketika Khalifah mendengar seruan tersebut dan melihat
cincin yang dipegang Abdullah, segera saja Khalifah
dan mengajaknya naik ke atas kendaraannya. Rombongan
Khalifah segera pulang menuju istana sedangkan
Abdullah belum juga diajak bicara oleh Khalifah
sehubungan dengan tindakannya tadi.

Sesampainya di istana, Khalifah Harun Ar-Rasyid
memanggil Abdullah bin Al-Faraj untuk menghadapnya.
Abdullah pun segera masuk ke ruangan di mana Khalifah
berada. Ketika dia sudah masuk, Khalifah lalu
memerintahkan semua orang yang ada agar meninggalkan
ruangan.

Semua yang ada di situ pun bergegas keluar
meninggalkan Abdullah seorang diri di hadapan
Khalifah. Ruangan menjadi sunyi senyap. Pertanyaan
Khalifah Harun Ar-Rasyid memecah suasana tersebut,
“Siapakah Anda ?”

“Abdullah bin Al-Faraj.”

“Dari mana Anda mendapatkan cincin ini ?” tanya
Khalifah kepada Abdullah.

Mendengar pertanyaan tersebut, Abdullah menjawabnya
dengan bercerita tentang pertemuannya dengan seorang
pemuda berwajah pucat pasi hingga kematian pemuda itu.

Mendengar cerita yang dituturkan oleh Abdullah,
seketika itu pula Khalifah Harun Ar-Rasyid menangis.
Tangisan beliau membuat Abdullah merasa iba kepadanya.
Setelah tangis Khalifah agak reda, Abdullah merasa
yang tidak tahu mengapa Khalifah menangis ketika
mendengar ceritnya, akhirnya bertanya kepada sang
Khalifah, “Wahai Amirul-Mukminin, adakah hubungan Anda
dengannya ?”

“Dia adalah putraku,” jawab sang Khalifah.

“Bagaimana mungkin itu terjadi ?” tanya Abdullah
heran memohon penjelasan.

“Dia lahir sebelum aku mendapatkan ujian menjadi
Khalifah. Saat itu dia tumbuh dengan baik, rajin
mempelajari Al-Qur’an, dan menuntut ilmu. Ketika aku
telah diangkat menjadi Khalifah, dia pun pergi
meninggalkanku dan tidak membawa sedikit pun bekal
harta yang kumiliki. Kepada ibunya, aku lalu
menyerahkan cincin ini. Ini adalah yaqut yang nilainya
sangat mahal. Oleh ibunya, cincin ini lalu diberikan
kepadanya, dengan tujuan agar suatu saat kelak cincin
ini membawa manfaat baginya. Ibunya telah meninggal
dunia, dan sejak itu aku tidak pernah mendengar berita
tentang anakku dan baru sekarang ini engkau membawa
berita perihal putraku itu,” kata Khalifah Harun
Ar-Rasyid menjelaskan.

“Nanti malam, tolong antarkan aku ke makamnya !” kata
Khalifah lagi.

Menjelang malam, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Abdullah
bin Al-Faraj berdua keluar dari istana berjalan kaku
ke makam pemuda sederhana yang ternyata putra seorang
Khalifah. Akhirnya, sampailah mereka di makan putra
sang Khalifah, lalu Khalifah Harun Ar-Rasyid pun duduk
bersimpuh di depan makam putranya sambil menangis
pilu.

Mereka berdua terus berada di makam itu sepanjang
malam. Hingga saat fajar mulai menyingsing, Khalifah
pun mengajak Abdullah pulang seraya berkata, “Engkau
harus berjanji kepadaku untuk bersedia datang setiap
hari menemaniku ke makam putraku !”

Maka Abdullah pun berjanji kepada sang Khalifah. Sejak
saat itu mereka selalu berangkat dan pulang bersama
dari berziarah ke makam putra Khalifah Harun
Ar-Rasyid. (assyd)

Semoga bermanfaat,

Senin, 27 Oktober 2008

Curhat Kerja

Terdengar dering ringtone dari HP butut milik Cak ZhudhrunH, dengan tergopoh-gopoh segera diterimanya panggilan itu.

“Assalamu’alaikum”

“Waalaikum salam Cak, aku Sentul Cak, sampeyan ada di mana ?”

“ Aku nang omah Tul, opo’o ?”

“Aku ngebel rumah aja yo Cak, ngirit pulsa.”

“Yo, tak tunggu Tul.”

Sesaat kemudian terdengar dering telpon rumah Cak ZhudhrunH.

“Hallo Cak.”

“Iyo Tul onok opo.”

“Saya mau minta tolong Cak masalah kerjaan saya.”

“Memangnya aku DISNAKER kok minta tolong aku ?”

“He... he.... Cak-Cak dari pada aku nuruti temen-temenku ndatangi paranormal, kan mending aku ngebel sampeyan aja Cak.”

“Ngawur ae, aku mbok padakno karo dukun tah ?”

“Hoahaha.... tapi bener lho Cak, sekarang ini aku lagi titik kulminasi tertinggi, lagi ruwet pikiranku Cak, sumpek pek pek ..... !!!”

“Oalah Tul Sentul hidup sekali aja kok dibuat sumpek, lha kalo sumpek ya segera cari obatnya to !”

“Makanya itu aku ngebel sampeyan Cak, gini lho aku tiap hari itu kerja diuber-uber target, manajerku apalagi, kok kayaknya engga senang banget sama aku, kerjaanku ada saja salahnya, apalagi kalo marah wis kalo ngomong seenaknya sendiri bahkan di forum rapat juga nyerang langsung. Malah terakhir keluar ancamannya kalo kinerjaku engga ada perbaikan bakalan diturunin grade kepegawaianku.”

“Tapi tiap bulan tetap gajian kan ? Tunjangan-tunjangannya juga tetap dapat kan ?”

“Kalo itu ya iya lah Cak, masak ya iya dong ! Mo pinter aja harus sekolah masak sekodong ?”

“Lha itu dia, disyukuri dulu, meskipun dimarahi, meskipun dikejar-kejar target, tapi gajian juga tetap utuh kan, ada yang diputar untuk belanja bulanan. Lha sedulur-sedulur kita yang lain banyak yang blom punya kerjaan, engga punya usaha, buat makan sekali sehari aja juga blom tentu ada. Coba bandingkan sama dirimu, kerjaanmu sudah mapan ‘plat merah’ lagi.”

“Gitu ya ?”

“Iya, di balik semua kesulitan, kesumpekan dan keruwetan yang engkau rasakan, pasti masih banyak yang bisa kau syukuri, tinggal bagaimana kita mencari hal-hal yang bisa kita syukuri itu. Wistalah, kalo kamu aja sambatannya seperti itu, coba kamu lihat aku, mestinya sambatanku melebihi kamu kan Tul, ha... ha.... ha....”

“Iya Cak, kata-kata sampeyan bener juga dan kau sudah agak terang sekarang ini, tapi itu lho cak kalo ingat kelakuan manajerku yak kayak gitu, wuih mangkel aku Cak, mentolo nyeprok ae !”

“Sekarang gini aja Tul, aku mo nanya, dalam melaksanakan pekerjaanmu sesuai tugas, tanggung jawab dan kewenangan yang melekat pada posisi atau grade kepegawaianmu sekarang ini kamu merasa sudah sesuai prosedur yang berlaku atao blom ?”

“Ya sudah Cak, bahkan menurutku aku sudah melaksanakan dengan sungguh-sungguh, bukannya nyantai, hasilnya pun signifikan Cak, tapi memang blom mencapai target.”

“Menurut penilaianmu sendiri, prestasimu itu gimana, di bawah standar, biasa aja sesuai standarnya ato malah plus, di atas standar ?”

“Ya plus dong Cak, malah ada temen-temen yang kinerjanya ada di bawahku.”

“Ya sudah toh kalo gitu, ngapain bingung, ngapain juga kamu sumpek ngadepin manajermu itu, santai aja.”

“Hawanya itu lho Cak, kalo ketemu aku kok panas terus.”

“Halah, engga usah direken, engga usah dihiraukan, kalo kamu menghiraukan, maka berarti kamu masuk polanya dia. Nah kalo terus-terusan seperti itu nantinya malah potensimu engga bisa tereksplor secara bebas, terhambat, yang terjadi nanti malah kinerjamu bener-bener jelek.”

“Trus gimana caranya biar aku bisa nyantai ngadepin dia Cak ?”

“Gampang itu, coba sekarang misalnya kamu pada posisinya sebagai manajer yang juga dikejar target oleh kepala kantor, apa kamu sebagai manajer juga menekan anak buahmu untuk mencapai target ?”

“Ya jelas Cak, kalo itu aku bisa ngerti lah. Tapi kenapa kok aku yang jadi sasaran, trus kenapa juga kata-katanya kasar nyakitin ati.”

“Nah itu dia, berati malah kamu engga usah mempermasalahkan sikapnya, karena permasalahan yang sebenarnya ada pada dia, si manajermu itu.”

“Lho kok bisa Cak ?”

“Ya bisa, sekarang nyantai aja, anggap saja kalo manajermu itu orang yang rentan stress sehingga beban tanggung jawab yang harus dipikulnya membuatnya tidak stabil sehingga perlu baginya untuk melampiaskan stressnya dengan berkata-kata kasar dan sikap lainnya yang seakan tidak terkontrol. Gimana menurutmu ? Malah kasihan kan ?”

“Trus yang kedua, sebenarnya kamu itu termasuk yang berprestasi, sehingga manajermu itu merasa hasud, gengsi untuk mengakui prestasimu dan menutupinya dengan bersikap seperti itu ke kamu. Anggap saja begitu. Jiwanya kerdil kan ? Kasihan juga kan ?”

“Iya Cak. Kalo aku ngerasakan yang seperti sampeyan omongkan itu ya aku malah kasihan sama dia, trus aku sekarang gimana Cak ?”

“Ya... tugasmu cuman satu, maafkan dia. Setel hatimu untuk bisa menerima apa pun sikapnya kepada dirimu, setel hatimu untuk memafkan dia.”

“Rasanya akau bisa Cak seperti itu.”

“Ya baguslah kalo gitu. Karena begitu kamu memaffkan dia, ketika menerima perlakuannya hatimu tidak terbawa emosi yang dipancarkannya, hatimu tetap tenang, wajahmu tetap cerah, insya Allah dia akan terpengaruh menjadi lebih lembut. Dia akan ikut polamu, jangan samapi kebalik, kamu yang mengikuti polanya karena terprovokasi sikapnya.”

“Nah setelah kamu bisa memaafkannya, tugasmu berikutnya adalah mendoakan kebaikan untuknya, mohonkan ampunan. Lha timbang kamu cuman nggerundel aja, cuman ngerasani aja, sudah enga ada gunanya berdosa lagi, kan mending doakan aja dia. Nantinya kan kembali ke dirimu sendiri doa itu.”

“Wah rasanya aku bisa nyambung Cak dengan omongan sampeyan, wis agak lega hatiku sekarang. Kemarin-kemarin sumpekku itu sampai ke bawa ke rumah. Aku juga jadi temperamental, istriku sering jadi sasaran kemarahanku, anakku sering aku semprot, padahal kalo kurenungkan lagi pemicunya hanyalah hal-hal sepele yang tidak prinsip.”

“Wow engga boleh itu Tul. Ketika kamu sudah menikah, sudah punya anak, semua itu menjadi tanggung jawabmu. Jangan sampai beban kerjamu membuatmu kehilangan kelembutan kepada keluarga. Banyak kan para suami yang bilang ke anaknya, ‘Papa ini capek pulang kerja, cari uang buat kalian !!!’. Jangan sampai ya ngomong seperti itu. Kalo engga mau capek menafkahi keluarga ya engga usahlah menikah apalagi punya anak. Makanya guru ngajiku bilang kalo mau optimal ketika berangkat kerja pasrahkan keluarga di rumah sama Allah. Yang diingat selama perjalanan sampai di tempat kerja ya Allah saja sama mikir kerjaan juga boleh. Tapi kalo dah pulang kerja, ya sudah kerjaannya jangan dipikirin lagi, ingat Allah terus sama ingat keluarga.”

“Trus masalah targetku bagaimana Cak, aku kasih pegangan dong Cak biar bisa lancar !”

“Hush, padane dukun ae, aku mbok jaluki cekelan. Wis gampang, nanti tak doakan biar targetmu tercapai ya. Gampang wong tinggal doa aja kok, tapi ojok lali kalo targetmu terpenuhi traktirannya tak tunggu lho.... hoa... ha... ha....”

“Beres Cak, tenang aja.”

“Tapi yang terpenting sebenarnya gini Tul, katanya guru ngajiku, kamu jangan ngandalkan dirimu, andalkan aja gusti Allah, mohon kemudahan kepadanya dan berbaik sangkalah pada gusti Allah bahwa Allah itu sayang sama kamu, selalu memberi kemudahan ke kamu. Hatimu harus pasrah srah-srah alias tawakal di awal ikhtiarmu. Tetapi akal pikiranmu harus berusaha seoptimal mungkin dalam ikhtiarmu sesuai referensi keilmuanmu dalam mencapai targetmu. Ikhtiarmu pun hakikinya Allah juga yang menggerakkan. Kalo kamu mempunyai keinginan, kesungguhan dan semangat untuk ikhtiar dalam mencapai target, insya Allah itulah tanda-tanda keberhasilanmu.”

“Insya Allah Cak.”

“Satu lagi Tul, kata guru ngajiku juga pernah bilang kalo kita ini tidak diperintahkan mencari rejeki tapi diperintahkan beramal sholeh. Karena itu dalam bekerja, sejak awal niatkan aja untuk beramal sholeh lillahi ta’ala, insya Allah barokah. Engga usah mikirin hasilnya, yang penting laksanakan tugas dan tanggung jawab kita sebaik-baiknya dan istiqomah. Karena ikhtiar itulah yang dituntut Allah kepada kita, bukan hasilnya, sehingga ikhtiar itu lebih afdhol dibandingkan hasilnya. Ibadah lebih utama dibandingkan pahalanya dan sebagainya.”

“Iya ya Cak, sering lho kita ini malah lebih serius kepada haknya hawa nafsu kita, bukannya fokus pada yang dituntut Allah pada diri kita. Apalagi kalo ramadhan kemarin, ngitung pahala terus, ibadah wajib pahalanya sekian, ibadah sunah sekian, genap satu bulan dapatnya sekian-sekian.”

“Satu hal lagi Tul, pengalaman pribadi yang mungkin ada gunanya. Misalnya kita dah kerja dengan baik sesuai target pekerjaan kita masing-masing bahkan mungkin melebihi dan mestinya kita dapat reward untuk itu, tetapi ternyata dengan berbagai alasan reward itu tidak diberikan oleh bos kita atau pimpinan kita dengan berbagai alasan dan kita tidak punya kapasitas untuk menuntutnya, maka kalo aku, yo wis tak pasrahkan aja ke gusti Allah, tak niatkan shodaqoh nang bosku. Wah berarti sugihan aku to, wong bosku tak shodaqohi.”

“Bener-bener Cak, setuju, walau kita tidak kaya secara materi tetapi hati kita harus kaya !”

“Gitu dong ! Piye, masih sumpek ?”

“Alhamdulillah dah terang Cak, suwun. Doakan aku yo Cak ZhudhrunH.”

“Beres, tak dongakno, namamu mesti tak cangking kok kalo aku lagi berdoa, aku juga minta tolong doakan ya Tul ?”

“Iya Cak, donga dinonga. Assalmu’laikum”

“Waalaikum salam.”

Demikianlah, Cak ZhudhrunH meletakkan gagang diiringi rasa syukur kepada gusti Allah bahwa dia baru dapat pelajaran lagi tentang kehidupan, yaitu di mana pun juga, dalam kondisi apa pun dan posisi apa pun ternyata masalah selalu ada. Sawang sinawang. Tinggal bagaimana menyikapinya dengan tidak lepas menautkan hati pada sumber kehidupan yaitu gusti Allah. Suatu pelajaran dari Sentul, yang menyegarkan ingatan kembali dari apa yang telah pernah dilalui Cak ZhudhrunH diirngi doa semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam beramal sholeh mengemban amanah kewajiban untuk menafkahi keluarganya.

Rabu, 22 Oktober 2008

Terjerat Panah Asmara

Tatkala Cinta Berbalut Duka

Dunia seakan kelam

Gelisah, resah, hampa yang terasa

Kosong…senyap… dan tak ada Gairah…

Seakan…tiada harapan yang didamba disana..

Dunia sekeliling seakan menggigit tajam…

Benda-benda matipun tak mau peduli keresahan hati…

Semua hanya karena kekosongan Cinta…

Namun,..tatkala cinta terjerat panah asmara

Dunia seakan ceria, tertawa dan tersenyum manis

Ketenangan.. kejernihan… ketabahan… berbalut sutera

Semua hanya karena Cinta sedang bersemi….

Mungkin,..inilah perasaan seseorang seperti aku…

Bila jauh dariNya…dunia seakan gelap gulita

Mataku melihat, namun aku buta

Telingaku mendengar, namun pekak

Mulut terbuka, namun bisu

Ini semua karena apa….? KARENA JAUH dari CintaNya

Manusia yang cerdas sadar akan arti Cinta..

Ia tak akan pernah melepaskan Cinta hakiki..

Cinta tanpa harapan duniawi…

Keutuhan Cinta kekal hanya tujuan Ukhrawi..

Karena disanalah cinta itu akan kekal abadi

Akh..kukisahkan pengalamanku bercinta denganNya

Tiada yang lebih menjamin kekekalan Cinta selain berpegang teguh pada AlQuran dan Sunnahnya.

Jangan pernah sedetikpun melepaskan ikatan cinta itu

Cinta manusia semakin dikejar, semakin ia menjauh

Cinta kepadaNya semakin dikejar semakin ia mendekat kencang

Yah….semakin mendekat dan selalu membaca, mentadabburi kitabNya

Semakin dirimu melekat panah asmaraNya

Semakin kau tak memperhatikan kitabNya

Maka cinta asmaraNyapun seakan tanpa asa dan rasa

Raihlah, dan teguhlah pada cintamu…

Wassalamu’alaikum. Cairo , 22 Oktober 2008. Rahima

Senin, 20 Oktober 2008

MANGKUK CANTIK, MADU, dan SEHELAI RAMBUT

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar r.a, ‘Umar r.a, ‘Utsman r.a, dan ‘Ali r.a, bertamu ke rumah ‘Ali r.a. Di rumah ‘Ali r.a, istrinya yaitu Fathimah r.ha (putri kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abu Bakar r.a berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar r.a berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Utsman ra berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Ali ra berkata, “Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit daripada meniti sehelai rambut”.

Fathimah ra berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali mahramnya itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril ‘alahis salam berkata, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, meyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Seorang yang suka membaca Al-Qur’an itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik, mempelajari dan menghayati isi Al-Qur’an bersama-sama itu lebih manis dari madu, memelihara Al-Qur’an di dalam dada hingga akhir hayat itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

Hati yang cantik itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik, mendapatkan lelaki (wanita) yang sholih (sholihah) itu lebih manis dari madu, mendidik anak menjadi generasi terbaik pada zamannya itu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.

Kamis, 15 Mei 2008

Ada Apa Dengan Mars? Terjadikah pada bumi?

MERM (MARS Exploration Rover Mission) - 24th March 2004.


The science of astronomy states that the speed of planet MARS has been decreasing in its course orbit toward the eastern direction in the few past weeks to the level we notice the "waver" between the east and the west, and on Wednesday the 30th July 2004, expected the planet movement will stop going towards the eastern direction. Then in the months of August and September 2004, MARS will change its course in the opposite direction to the west - and that until the end of September 2004, which means the sun will rise now from the west on MARS! This Weird phenomenon of the opposite movement called "Retrograde Motion". Most astronomy scientist states that all the planets in the universe will go through the same once at least and our planet EARTH is one of them. Planet Earth will move in the opposite direction someday and the sun will rise from the West!!! This might occurs soon and we are aware of it.


Terjemahan bebas:


Ilmuwan astronomi menyatakan bahwa kecepatan Planet Mars dalam lintasan orbitnya telah berkurang terhadap orbit Timur dalam beberapa minggu terakhir ini hingga ke tingkat yang meragukan geraknya antara timur dan barat.


Pada hari Rabu (30 Juli 2004), diperkirakan bahwa pergerakan planet akan berhenti bergerak dari arah timur. Kemudian, pada bulan Agustus dan September 2004, planet Mars akan merubah pergerakan orbitnya ke arah yang berlawanan (yang semula dari timur ke barat, menjadi dari barat ke timur) dimana hal ini berarti bahwa matahari akan terbit dari bagian barat Mars mulai saat ini. Fenomena yang aneh ini (pergerakan ke arah yang berlawanan) disebut "Retrogade Motion". Para pakar astronomi menyatakan bahwa semua planet di alam semesta ini akan mengalami hal yang sama, setidaknya sebanyak satu kali, dan Planet Bumi kita pun termasuk didalamnya.

Planet Bumi akan bergerak ke arah yang berlawanan dan matahari pun akan terbit dari barat!!!! Hal ini akan terjadi dalam waktu singkat dan kita semua pun pasti akan menyadarinya.

Menurut Hadist Nabi saw. Rasullullah saw bersabda: "Salah satu tanda akhir zaman (Kiamat), apabila sampai masanya... matahari terbit disebelah barat. Pada masa ini, taubat sudah tiada." hadist riwayat Muslim. Menurut Syariah Muhammadiyah, "Terbitnya matahari disebelah Barat hanya akan berlaku sekali pada masa dan ketika itu, matahari terus berada di sebelah barat. Dan matahari akan kembali terbit di sebelah timur dan seterusnya pada hari-hari yang berikut sehingga Allah menghendaki dan menetapkannya."


Inilah apa yang akan berlaku pada planet MARS. Bergerak dari timur kebarat - berhenti - bergerak kebarat dalam masa yang pendek - dan kemudian bergerak semula ke arah timur ke barat.

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasullullah SAW pernah berkata : "Tidak berlaku dan tibanya kemusnahan dunia (Kiamat) sehingga terbitnya matahari dari barat. Apabila tiba masanya ini, semua makhluk di dunia akan segera sadar dan percaya akan kekuasaan Allah. Tetapi pada masa ini, semuanya sia-sia belaka. Tiada satu pun pintu taubat dibuka. Sesungguhnya pada MASA TERSEBUT, rugilah bagi mereka itu". Hadist Al-Bukhari, Muslim.


Maksud utama adalah inginnya saya menyeru pada rekan semua: setiap planet di dunia akan mengalami fenomena yang sama. Tahun ini, planet Mars akan berlaku matahari terbit disebelah barat. Kita tak tahu, mungkin planet-planet lain sudah pun mengalami fenomena ini, dan mungkin hanya bumi saja yang belum, kita tak tahu, hanya Allah yang tahu.


Sesungguhnya amatlah benar Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Dia sudah pun memberi tanda awal, walaupun melalui hambanya yang bukan Islam. Tapi bagi kita yang sudah beriman ini, sadarlah selagi belum terlambat. Karena sekiranya berlaku, taubat sudah tidak diterima. Dunia ini hanya sementara. Bertaubatlah dari segala dosa yang kita lakukan. Berzikirlah, walaupun hanya pada sisa-sisa masa yang terluang karena zikir itu juga penghapus dosa kita.



Rabu, 14 Mei 2008

Kiat Menghadapi Kenaikan BBM

Seperti sudah kita ketahui semuanya, bahwa pemerintah mengambil keputusan untuk menaikan harga BBM. Terlepas apakah Anda setuju atau tidak, kita tidak bisa lepas dari dampak kenaikan BBM ini.

“Nggak apa-apa harga naik, yang penting kita mampu membelinya. Buat apa murah jika kita tidak bisa membelinya?”

Apa istimewanya kalimat ini? Yang jelas tidak terbantahkan! Yang lebih penting ialah kita sanggup membeli kebutuhan kita, tidak peduli berapa pun harganya. Kalimat ini keluar karena berasal dari keyakinan bahwa Allah sudah mengatur dan menentukan rezeki makhluq-Nya. Rezeki Allah tidak akan terhalang meski seberapa mahalnya harga kebutuhan pokok.

Saya kira, saya tidak perlu membeberkan bukti-bukti mengenai hal ini. Anda sudah paham semua ini, apalagi memang sudah difirmankan Allah dalam Al Quran. Jika kita orang beriman kita akan tetap yakin bahwa Allah akan membantu kita dan akan menolong kita. Harga mahal dan komoditas yang langka bukan halangan bagi Allah jika akan memberi rezeki kepada kita. Selalulah berpikir positif.

Mungkin ada yang mengatakan, bagaimana bisa berpikir positif jika kita khawatir keluarga tidak bisa makan? Betul, Anda tidak akan bisa berpikir positif sambil khawatir, sebab khawatir itu adalah pikiran negatif. Agar kita mampu membangkitkan pikiran positif maka kita harus membina keyakinan positif dalam diri kita.

Ada tiga dimensi keyakinan yang harus kita pegang dengan kuat.

  1. Keyakinan bahwa Allah akan membantu dan menolong kita.
  2. Keyakinan bahwa kita sudah memiliki potensi untuk menghadapi berbagai beban hidup
  3. Keyakinan akan tujuan yang kita capai.

Sekali lagi, mungkin ada yang mengatakan. Percuma kita yakin dan optimis jika pada kenyataan kita mengalami kesulitan.

Betul, namun akan lebih buruk jika kita sedang dilanda kesulitan diringi rasa pesimis tanpa harapan. Jika kita masih optimis dan berpikiran positif, kita akan masih memiliki kekuatan untuk bertindak atau berusaha mengatasi berbagai masalah yang ada dihadapan kita.

Yang kedua, bagi Anda yang yakin dengan hukum tarik menarik, jika emosi kita negatif (berasal dari khawatir, pesimis, marah, dsb) maka kita menyumbat kemampuan kita menarik apa yang kita inginkan. Sementara hukum tarik menarik akan lebih kuat jika kita memiliki emosi positif, yaitu emosi yang berasal dari optimis.

OK, yakinlah dan tetaplah optimis meski semua kebutuhan kita naik harganya. Insya Allah selalu ada jalan keluar bagi mereka yang bertaqwa dan bertawakal kepada Allah.

Senin, 05 Mei 2008

Menikmati Kesulitan dan Tantangan

Kekuatan tidak didapat dari duduk santai dan pekerjaan gampangan. Kita bisa menanyakannya kepada para olahragawan, atlet binaraga misalnya. Segalanya datang dari kesulitan dan tantangan. Para atlet binaraga tahu bahwa mereka harus menempa semua otot mereka agar bertumbuh. Dan sama dengan hal itu, karakter kita akan ditempa dengan kesulitan yang kita temui.

Tanpa kesulitan, kita tidak akan mengenal kenikmatan, apalagi menikmatinya. Kesulitan dalam hidup, hanyalah agar kita lebih mengenali kenikmatan hidup. Setiap rintangan yang berhasil diatasi, akan membuat kita menjadi lebih kuat. Setiap tantangan yang kita lewati, menghasilkan kegembiraan yang lebih sempurna.

Tantangan memberi kita tugas untuk dikerjakan.

Bayangkan betapa keringnya hidup bila segala sesuatu muncul begitu saja saat kita inginkan. Hargailah masa susah, karena masa itu berlimpah kesempatan. Bangkitlah menghadapi tantangan pahit, dan hidup kita akan terasa manis.

Note :

Kata-kata Bijak Hari ini :

Agar dapat membahagiakan seseorang,………… isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan laparnya dengan makanan.!!
(Frederick E. Crane)

Rabu, 23 April 2008

Jangan Galau dan Gelisah

Sobat, kita mesti menyadari bahwa kegelisahan tidak hanya mempecundangi kesenangan yang terbayang di hari esok, tetapi kegelisahan juga telah melucuti kegembiraan yang terpatri hari ini. Jika demikian, maka keyakinan atas pertolongan Allah, kepasrahan kepada-Nya, iman atas qadha dan qadar-Nya, serta tetap menjaga perintah-perintah-Nya merupakan obat penawar yang mampu mengusir kegelisahan dan kesedihan yang bersarang di dalam diri seorang muslim, sehingga asa dan tekad kembali terwujud.
Kita semua tahu bahwa kesulitan hidup dan musibah tidak akan pernah luput dari kehidupan kita. Karena itu, apapun yang terjadi dalam diri kita, sepatutnya kita menghadapinya dengan pikiran jernih bukan dengan pikiran gelisah. Perlu sobat ketahui bahwa kegagalan kita dalam mengatasi problematika yang kita hadapi seringkali diakibatkan oleh ketidakseriusan kita memikirkan solusi itu dan kegelisahan yang berlebihan.
Sobat dapat melihat pribadi-pribadi yang terserang penyakit gelisah ini, di mana ia akan menutup pintu untuk mendiskusikan apapun yang tengah terjadi padanya. Ia menyerah tanpa syarat pada kegelisahan dan kecemasan yang menghantuinya. Ia merasakan bahwa kekhawatiran dan ketakutannya akan terjadi, sehingga tiada berguna untuk memikirkannya.
Hal seperti ini merupakan kesalahan yang fatal dari seorang yang gelisah.
Kala hati disesaki oleh kesedihan yang melampaui batas karena gagal mewujudkan cita-cita –umpamanya-, berusahalah untuk melepaskan belenggu itu. tanamkan optimisme dalam menatap kehidupan, jalani dengan penuh keyakinan, usir kegelisahan, dan persempit ruang geraknya. Tidak ada kesedihan yang akan abadi di dunia ini, semua hanya bersifat sementara dan tidak bertahan lama. Sebesar apapun bencana yang menimpa, semua itu tidak lebih dari pusaran air yang sedang mendidih di dalam periuk. Ia akan berakhir dan berangsur-angsur kembali seperti semula. Ketahuilah bahwasanya diri kita hanyalah bagian terkecil dari alam ini. Karena itu, jangan terlampau memandang besar bencana yang tengah kita hadapi, sebab sebesar apapun permasalahan yang menimpa –dalam pandangan kita- pasti semuanya dapat terselesaikan. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-BAqarah [2] : 286)

Minggu, 20 April 2008

Anda Bisa Sukses

Ada dua hal yang menyebabkan Anda sukses, pertama adalah Anda melakukan cara tertentu untuk meraih sukses, kedua Allah mengijinkan Anda untuk sukses.

Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri [12.67]

Meskipun ada faktor nasib disini, tetapi bukan berarti kita tidak harus berusaha, hanya
menunggu nasib dari Allah. Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk berusaha. Seperti
didalam firman-Nya:

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. [25.47]

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki suatu keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(ar-Ra’d: 11)

Kita disuruh berusaha, tetapi usaha tertentu yang bisa membuat Anda sukses (bukan sembarang usaha), karena yang menjadikan orang sukses ialah karena mereka melakukan usaha tertentu yang benar yang akan membuat Anda sukses. Bagaimanapun kerasnya Anda berusaha jika usaha yang Anda lakukan salah maka Anda tidak akan berhasil.

Sukses tidak disebabkan oleh lingkungan. Bagaimanapun lingkungan Anda, Anda tetap bisa Anda sukses. Ada orang yang sukses dari lingkungan kota, ada juga dari desa. Jika Anda seorang karyawan, ada juga karyawan yang sukses, jika Anda seorang pengusaha ada pengusaha yang sukses, bahkan jika Anda seorang pemulung, ada juga yang sukses. Meskipun Anda seorang presiden tidak dijamin Anda akan sukses. Sudah ada contoh bahwa seorang presiden mengakhiri hidupnya dengan tragis. Kesimpulannya lingkungan atau profesi tidak menentukan Anda sukses atau tidaknya.

Begitu juga dengan kepandaian maupun gelar tidak menjamin akan sukses. Banyak yang bergelar doktor maupun profesor tidak mendapatkan kesuksesan, tetapi disisi lain lulusan SD ada yang sukses.

Sukses juga tidak ditentukan oleh modal, sudah banyak contoh orang sukses tanpa modal (sukses dalam bisnis). Jadi tidak ada alasan Anda tidak mau mengejar sukses karena terhambat modal. Mendapatkan modal adalah bagian dari langkah menuju sukses, bukan penentu. Karena banyak juga yang sudah punya modal tidak sukses.

Pada intinya Anda bisa sukses tidak peduli dimana Anda berada, tidak peduli apa pendidikan Anda bahkan tidak peduli Anda punya uang atau tidak sekarang. Yang penting Anda mau melakukan cara yang benar untuk meraih sukses.

Timbul pertanyaan, seperti apa cara atau strategi jitu untuk meraih sukses. Anthony Robin
dalam bukunya Langkah Sukses menuliskan langkah jitu untuk meraih sukses yaitu :

  1. Tentukan tujuan yang Anda inginkan. (berhati-hatilah! Kejelasan merupakan modal paling penting.)
  2. Ambillah tindakan (karena kemauan saja tidak cukup)
  3. Periksalah apa yang berhasil dan tidak. (Anda tidak perlu menyia-nyiakan energi untuk pendekatan tidak bermanfaat)
  4. Ubah pendekatan Anda sampai menggapai tujuan (Fleksibilitas memberi Anda kemampuan untuk membuat pendekatan baru dan hasil baru)

Yah, Anda bisa sukses jika menjalankan 4 langkah di atas, Insya Allah. Tetapi ada yang perlu diperhatikan yaitu 4 langkah tersebut diatas adalah langkah-langkah sukses yang umum. Anda memerlukan cara-cara yang lebih spesifik atau penjabaran dari langkah-langkah tersebut yang lebih fokus terhadap sukses yang sedang Anda kejar. Contohnya ialah jika Anda ingin sukses dalam bisnis, tentu saja Anda harus tahu langkah-langkah menjalankan bisnis, jika Anda ingin sukses dalam bidang olah raga maka Anda harus tahu tentang olah raga yang Anda tekuni.

Tetapi jangan takut, jika melakukan 4 langkah diatas, keterampilan yang diperlukan bisa mengikuti. Keterampilan bisa dipelajari. Maka kunci sukses selanjutnya sebagai pelengkap dari empat langkah tersebut adalah kemauan untuk belajar. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Banyak kisah dimana pada usia lanjut masih bisa mendapatkan pengetahuan serta keterampilan baru.

Satu lagi hal penting dalam meraih sukses ialah adanya energi pendorong yang kuat dalam melakukan keempat langkah tersebut. Motivasi. Yah motivasi, tanpa itu tidak akan bisa bergerak. Motivasi ibarat darah dalam tubuh, motivasi ibarat bensin dalam mobil yang menjadikannya bergerak. Semakin besar atau semakin kuat motivasi Anda akan semakin besar kemungkinan Anda untuk berhasil.

Seorang mujahid tidak gentar dengan berbagai senjata lawan yang dia hadapi. Bahkan tidak jarang kekuatan lawan yang jauh tidak seimbang. Tetapi pada kenyataan seorang mujahid pantang mundur terus bergerak. Kenapa? Tentu karena mempunyai motivasi yang sangat kuat untuk meraih ridha illahi sehingga mampu mendorong dia untuk menembus segala rintangan dan halangan bahkan dengan nyawa taruhannya.

Jika Anda ingin sukses Anda harus mempunyai motivasi yang besar untuk meraih sukses tersebut. Dan motivasi terbesar, tidak terbatas serta mulia ialah motivasi menggapai ridha illahi. Berperang di medan tempur, mengentaskan kemiskinan, mencerdaskan umat, memberantas kelaparan, memberantas oknum-oknum yang kotor, dan sebagainya akan terasa berat tanpa motivasi menggapai ridha illahi.

Melakukan empat langkah di atas ditambah motivasi yang kuat akan membawa Anda kepada kesuksesan, kecuali Allah menghendaki lain. Teruslah berusaha karena Allah memang menyuruh kita berusaha, tentang hasil kita serahkan saja kepada Allah. Jika motivasi kita mulia, berhasil tidak berhasil kita akan mendapatkan balasan dari Allah jika kita telah berusaha seoptimal kita.

Rabu, 26 Maret 2008

Kenapa ?

Kalau rizki itu di tangan ALlah, kenapa engkau ikut campur? Kalau Allah sudah menjanjikan ganti yang lebih baik, kenapa engkau bakhil?? Kalau sesungguhnya surga itu benar adanya, kenapa engkau masih beristirahat? Kalau sesungguhnya neraka itu benar adanya, kenapa engkau bermaksiat? Kalau sesungguhnya pertanyaan Munkar Nakir itu benar adanya, kenapa engkau masih disibukkan oleh aib orang lain? Kalau sesungguhnya dunia ini fana, kenapa engkau tenang di dalamnya? Kalau sesungguhnya "hisab" benar adanya, kenapa engkau terus mengumpulkan (dosa-dosa)? Kalau sesungguhnya segala sesuatu terjadi karena qodho dan qodar-Nya, kenapa engkau takut? (Imam Ahmad bin Hambal)

Jumat, 22 Februari 2008

Jadi Pemuda Berkualitas? Siapa Takut?

Setiap hari kami saksikan kesadisan
di luar logika,
juga pertikaian yang tak selesai
diiringi goyang bor patah-patah,
gosip para selebriti
serta gentayangan para hantu
setiap jamnya

Kami larut dalam kisah cinta
anak sekolah berseragam putih merah
putih biru dan putih abu-abu
sambil menertawakan si Yoyo, Cecep, Sin Chan, dan bidadari,
lalu sibuk mendukung bintang baru lewat SMS

Dari pagi sampai malam
kami menghafal televisi
kami cerna kelicikan, darah, goyangan,
dan semua jenis hantu
sambil mendebukan buku-buku

Di sekolah, guru bertanya
tentang cita-cita
dan sambil menguap panjang
kami menjawab
Kami ingin jadi orang paling berguna bagi negeri ini
seperti yang pernah dinasihatkan
orangtua, guru, pejabat, politisi, ulama, dan selebriti kami di televisi

(“Anak Televisi”, oleh Abdurahman Faiz)


Sebuah puisi yang cukup menohok dan menghenyakkan saya. Betapa tidak? Faiz, peyair yang masih duduk di Sekolah Dasar tersebut, sudah dapat meluncurkan kata-kata sederhana tapi tajam tentang sosok anak-anak muda Indonesia sekarang. Sebuah hal yang bahkan saya kurang sadari... bahwa saat ini yang hilang dari mayoritas pemuda Indonesia, terutama pemuda Islam, adalah semangat dan kesungguhannya untuk benar-benar menjadi orang paling berguna bagi negeri dan pemuda berkualitas. Bukan lagi sekedar kata-kata hafalan tanpa makna seperti yang disinggung Faiz dalam puisi di atas , “...sambil menguap panjang kami menjawab, kami ingin jadi orang paling berguna bagi negeri ini, seperti yang pernah dinasihatkan orangtua, guru, pejabat, politisi, ulama, dan selebriti kami di televisi.”

Hal tersebut memang benar adanya. Banyaknya artikel-artikel di media cetak tentang kenakalan anak muda mengindikasikan bahwa semangat dan kesungguhan mereka untuk menyumbangkan sesuatu yang positif bagi negara atau paling tidak buat lingkungan mereka sendiri, telah berkurang. Mereka lebih memilih mencari kesenangan pribadi daripada memberikan kesenangan dan manfaat kepada orang lain. Atau coba kita lihat diri kita sendiri... Sering juga kita melakukan hal yang sama dengan mereka. Kita sering merasa berat untuk membantu kerja sebuah kepanitiaan dengan alasan malas dan bermacam-macam alasan lainnya yang terkadang tidak masuk akal. Kita lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer memainkan game favorit kita daripada memanfaatkannya untuk menghasilkan suatu karya yang lebih bermanfaat bagi orang banyak. Kita lebih suka membiarkan diri terhipnotis dengan acara televisi selama berjam-jam daripada membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuan. Kalau pemuda Islamnya seperti ini, bagaimana nasib umat Islam nantinya? Selain itu, bagaimana nasib negara kita nantinya?

Padahal, ada sebuah pepatah yang berbunyi, “Negara yang tangguh salah satunya bisa dilihat dari sosok pemudanya.” Bahkan Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa pemuda adalah salah satu dari lima pilar yang dibutuhkan untuk membangun negara tangguh selain pemimpin yang adil, ulama, wanita solehah, dan ummat yang baik. Seharusnya, kita sebagai pemuda/i Islam merasa tersanjung dengan hal tersebut kemudian berusaha melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya. Tapi, mungkin saja, ada beberapa dari kita merasa bingung, tidak puas dan bertanya, “Kenapa harus pemuda?”. Jawabannya cukup sederhana, karena pemuda adalah kumpulan anak-anak muda dengan semangat besar, daya serap dan pikir yang cepat juga fisik yang masih prima. Karena peranan pemuda yang strategis itulah, Soekarno sampai berani mengatakan sesuatu yang masih dikenang dunia hingga sekarang, “Berikan kepadaku 1000 orang tua, aku sanggup mencabut Semeru dari uratnya. Tapi, berikan kepadaku 10 pemuda maka aku sanggup menggoncangkan dunia.”

Pertanyaannya sekarang adalah, “Pemuda seperti apa sih yang bisa menggoncangkan dunia dan menjadi pilar negara?”. Tentu saja jawabannya bukan pemuda yang suka menghabiskan waktunya dengan bersantai-santai, pasif, dan tidak mempunyai kesungguhan untuk terus berkarya bagi ummat. Pemuda yang dimaksud haruslah pemuda yang berkualitas. Ia haruslah seorang yang dinamis, aktif berkarya membuat perubahan, kreatif, revolusioner dan yang tidak kalah penting adalah beriman dan bertakwa. Dinamis, karena kehidupan ini tidak selamanya berada di atas, bisa saja ia meluncur ke titik terbawah dalam hidup kita. Oleh karena itu, pemuda yang dinamis, peka dalam menyikapi perubahan, akan sanggup bertahan daripada mereka yang tidak peka dalam menyikapi perubahan. Aktif berkarya dalam membuat perubahan lebih baik daripada terus berdiam diri menunggu seseorang merubah keadaan. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri... (QS 13: 11)”. Pemuda yang kreatif akan mempunyai banyak solusi dalam menghadapi setiap permasalahan. Pemuda pun harus siap menjalankan perannya sebagai seseorang yang revolusioner, menjadi agen peubah masyarakat dari tidak baik menjadi baik dan dari kurang baik menjadi lebih baik. Akan menjadi sesuatu yang lengkap jika pemuda tersebut juga mempunyai keimanan, ketakwaan, akidah, ibadah, dan akhlak yang baik sehingga bisa menjadi teladan bagi yang lainnya.

Truss... Gimana sih caranya untuk jadi pemuda yang berkualitas dan mempunyai kesungguhan dalam berkarya? Untuk mewujudkannya, ada empat hal yang harus diperhatikan, yaitu hati nurani (spiritual intelligence), emosi (emotional intelligence), akal (intellectual intelligence), dan fisik. Hal-hal tersebut dapat dimaksimalkan melalui perbaikan jiwa. Perbaikan jiwa dapat dilakukan melalui pendidikan dan pembinaan. Rajin menambah ilmu dengan mengikuti kajian, seminar, mentoring atau training; melakukan introspeksi diri; melembutkan hati dengan banyak berdoa merupakan cara-cara yang dapat ditempuh untuk mendidik dan membina jiwa. Setelah ilmu didapat, hal berikutnya yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan semangat dan kesungguhan untuk mengimplementasikannya dalam amalan nyata. Caranya? Pahamilah ilmu yang telah kita peroleh, apa sih manfaat dan kegunaan dari ilmu tersebut. Misalnya, ilmu tentang Information Technology (IT) yang kita pelajari selama ini ternyata bisa dimanfaatkan untuk banyak hal lho!!! Dengan ilmu tadi, kita bisa saja membuat sebuah website yang berisikan informasi-informasi Islam, bisa membuat program-program keren dan bermanfaat banyak, bisa buat nyari duit juga nantinya... (oops, money-oriented!!). Nah, bener-bener gak ada ruginya kan? Ilmu yang kita pelajari gak sia-sia, dapat uang, juga pahala... tapi dengan catatan: semua itu harus dilakukan dengan iklash.

Jika semua pemuda Islam di Indonesia bertekad untuk menjadi pemuda berkualitas, impian akan kejayaan Islam dan ketangguhan negara Indonesia nantinya, besar kemungkinan akan terwujud. Karena di hadapan kita – bisa jadi – akan muncul lagi pemuda-pemuda tangguh yang mengikuti jejak Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair; pemuda Yahya Ayyash, Imad Aqdil, Izzudin Al Qasam, dan mujahid-mujahid muda Palestina lainnya. Dengan demikian, cita-cita untuk menjadi orang yang paling berguna bagi negeri ini juga sudah bukan lagi kata-kata tanpa arti, bukan lagi impian yang tidak tau kapan akan berakhir, tapi sebuah impian yang bisa diwujudkan menjadi kenyataan manis. Pastinya, pada pengen banget kan hal tersebut terjadi pada diri kita? So, jadi pemuda berkualitas? Siapa takut?

Kamis, 21 Februari 2008

Resep Kue Cinta

BAHAN:
1 pria sehat,
1 wanita sehat,
100% Komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.

BUMBU:
1 balok besar humor,
25 gr rekreasi,
1 bungkus doa,
2 sendok teh telepon-teleponan,
Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang.

TIPS:
Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.

  • Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.)
  • Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
  • Gunakan Kasih sayang cap “IMAN, HARAP & KASIH” yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.

CARA MEMASAK:

  • Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
  • Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
  • Masukkan niat yang murni ke dalam loyang dan panggang dengan api cinta, merata sekitar 30 menit di depan penghulu
  • Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan semua bumbu di atas.
  • Kue siap dinikmati!

Catatan:
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan kasih yang hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerek “Tempat Ibadah” di atas api cinta. Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan.

Selamat mencoba, dijamin semuanya halal koq!

Selamat menikmati dari ‘love’ bakery!

Minggu, 17 Februari 2008

Kita Semua Unik

Pengidolaan sepenuhnya kepada seseorang bukanlah sesuatu yang wajar. Bahkan Rasulullah SAW pun tidak menyuruh umatnya untuk benar-benar 100% meniru tingkah laku beliau. Rasulullah memberikan keleluasaan kepada para shahabat dalam urusan muamalah. Hanya untuk urusan ritual saja, yang harus benar-benar sesuai dengan yang dicontohkan atau yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Mengapa demikian? Karena fitrah manusia adalah bahwa setiap manusia diberikan keunikan masing-masing. Keunikan inilah yang memberikan kelebihan kepada kita. Popularitas tidaklah menunjukkan seseorang itu lebih baik. Kita masing-masing punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Jangan iri dan kecewa jika orang lain memiliki keunggulan dibanding kita, karena kita juga memiliki keunggulan dibanding orang lain.

Mari kita tengok, bahwa para sahabat Rasulullah SAW pun memiliki keunikan masing-masing. Lihatlah Umar ra dan Abu Bakar ra. Mereka tidak memiliki karakter yang sama meskipun mereka sama-sama termasuk manusia unggulan setelah para Nabi. Kedua-duanya berbeda, tetapi kedua-duanya unggul. Umar ra dikenal sebagai tokoh yang keras dan tegas. Sedangkan Abu bakar ra dikenal sebagai orang yang lembut dan penuh perasaan.

Bilal dikenal dengan suara merdu dan konsistensinya, Salman al Farisi dengan kemampuannya sebagai arsitek ulung. Abdurahman bin Auf sebagai pedagang yang sukses, Qais bin Saad dengan kecerdikan dan kepandaiannya, Ali ra dikenal sebagai pintu ilmu, dan masih banyak contoh lainnya. Yang jelas kita bisa melihat bahwa mereka adalah orang-orang unggul dengan keunikannya masing-masing.

Kita pun sama. Kita memiliki keunikan masing-masing yang dapat menjadi keunggulan kita masing-masing. Sering orang merasa rendah melihat keunggulan orang lain. Dia bukan tidak punya keunggulan, dia hanya saja belum menggali potensi yang ada pada dirinya. Kita semua memiliki keunikan. Maka siapa pun kita, menjadi besarlah dengan keunikan itu.

Minggu, 03 Februari 2008

Sering kali setelah kita berusaha dan berdo’a

Sering kali setelah kita berusaha dan berdo’a untuk meraih sesuatu atau terlepas dari suatu kesulitan, hasil yang kita harap seperti jauh panggang dari api. Padahal bisa jadi kita sudah berusaha sekuat tenaga. Kita juga tidak lepas dari memanjatkan do’a kepada Allah SWT agar apa yang kita harapkan segera tercapai, tetapi mengapa tidak berhasil juga?

Bagi orang yang beriman, sebaiknya kita kembalikan saja kepada Allah SWT. Kita yakin dibalik kesulitan yang kita hadapi ada hikmah yang belum kita ketahui. Misalnya bisa saja Allah memang memperlambat dalam mengabulkan do’a kita seperti dikatakan dalam sebuah hadits:

Tidak ada seorang Muslim yang menghadapkan mukanya kepada Allah untuk berdo’a, kecuali Allah memberikannya (memenuhinya), kadang dipercepat dan kadang diperlambat. (HR Ahmad dan Hakim)

Atau bisa saja apa yang kita harapkan memang tidak baik bagi kita.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah:216)

Bisa juga merupakan ujian kepada Allah karena kita termasuk orang yang beriman.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS Al ‘Ankabuut:2)

Mungkin sengaja Allah simpan untuk diakhirat nanti.

Tidak ada seorang Muslim pun yang berdo’a dengan suatu do’a yang bukan do’a menyangkut dosa atau menyangkut memutuskan silaturahim, kecuali Allah akan memberinya dengan salah satu dari tiga kemungkinan: segera dipenuhi-Nya do’a tersebut, atau disimpan-Nya sebagai simpanan pahala di akhirat, atau dihindarkan-Nya dia dari kecelakaan atau kejelekan yang sebanding. Mereka (para sahabat) bertanya: bagaimana kalau kami memperbanyak? Rasul menjawab: Allah akan memperbanyak lagi. (HR Ahmad, Bazzar, Abu Ya’la, dan Hakim)

Oleh karena itu, tetaplah berusaha, tetaplah berdo’a serta tetap menjaga pikiran positif terhadap yang menimpa kita. Insya Allah, semua yang kita lakukan (baik do’a dan usaha) tidak akan sia-sia. Selalu membawa hasil, hanya saja mungkin berbeda dengan apa yang kita pikirkan sebelumnya.

Senin, 14 Januari 2008

Jembatan Menuju Impian

Coba bayangkan saat Anda berdiri di pinggir suatu sungai yang besar, yang tidak mungkin Anda melaluinya dengan cara meloncat, apalagi melangkah. Sementara Anda sangat memerlukan atau menginginkan untuk dapat melaluinya. Bagaimana perasaan Anda saat menemukan sebuah jembatan yang menghubungkan kedua tepi sungai itu?

Saat Anda menginginkan sesuatu yang agak sulit untuk dicapai, maka Anda perlu sebuah jembatan yang menuju kepada apa yang Anda inginkan. Keinginan Anda, insya Allah, akan jauh nampak lebih mudah jika sudah terbentang jembatan yang menghubungkan antara Anda pada kondisi sekarang dengan kondisi Anda setelah mencapai mimpi Anda tersebut.

Jembatan itulah yang disebut dengan rencana. Rencana yang akan mengubah Anda, bukan kebetulan. Tanpa direncanakan Anda tidak akan berubah. Dalam kehidupan nyata yang saya jumpai, sering orang mengatakan belum siap, atau tidak bisa melakukan atau meraih sesuatu. Ketidaksiapan atau ketidakmampuan tidak akan berubah kecuali kita merencanakan untuk mengubahnya menjadi kesiapan atau kemampuan.

“Change should be a friend. It should happen by plan, not by accident.”

Philip Crosby (”Reflections on Quality”)

Putuskan apa yang Anda inginkan, kemudian tulislah sebuah rencana, maka Anda akan
menemukan kehidupan yang lebih mudah dibanding dengan sebelumnya, kenapa?

  • Rencana adalah pijakan Anda melangkah, bagaimana bisa melangkah jika tidak ada pijakan?
  • Rencana memberikan arah langkah Anda.
  • Rencana memudahkan Anda untuk fokus, dimana fokus akan memberikan hasil yang optimal.
  • Rencana akan membantu Anda mengoptimalkan waktu.
  • Rencana akan menunjukan apakah tujuan Anda bisa dicapai atau tidak
  • Rencana akan mengontrol Anda, sehingga Anda tetap di jalur yang mengarah menuju impian Anda.
  • Rencana membuat kita berfikir lebih sistematis

Kini saatnya bagi Anda untuk membuat sebuah rencana jika Anda ingin sukses seperti apa
yang dikatakan petenis tenar Andre Agassi,

“Success comes to those who plan their work and then work their plan!”

Allah SWT dalam firman-Nya memerintahkan kepada Nabi SAW beserta para sahabat
untuk membuat rencana ketika akan berangkat atau menghadapi peperangan,

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan
dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu
tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada
jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya
(dirugikan).
(QS:Al Anfaal:60)

Kamis, 10 Januari 2008

Anda Dan Sang Pencipta.

Orang sering sulit dimengerti, tidak pikir panjang dan selalu
memikirkandiri sendiri,namun demikian ... ampunilah mereka.

Bila anda baik hati, orang mungkin menuduh anda egois, atau
punya mau, namun demikian ... tetaplah berbuat baik.

Bila anda sukses, anda akan menemui teman-teman yang tidak
bersahabat, dan musuh-musuh sejati anda, namun demikian ...
teruskan kesuksesan anda.

Bila anda jujur dan tulus hati, orang mungkin akan menipu anda;
namun demikian ... tetaplah jujur dan tulus hati.

Hasil karya anda selama bertahun-tahun dapat dihancurkan orang
dalamsemalam; namun demikian ... tetaplah berkarya.

Bila anda menemukan ketenangan dan kebahagiaan, mungkin ada
yang iri; namun demikian ... syukurilah kebahagiaan anda.

Kebaikan anda hari ini gampang sering dilupakan orang;
namun demikian ... teruslah berbuat kebaikan.

Berikanlah yang terbaik dari anda dan itu pun tidak akan
pernah memuaskanorang, namun demikian... tetaplah memberi
yang terbaik.

Pada akhirnya ....

Perkaranya adalah antara anda dan Sang Pencipta....
dan bukan antara anda dan mereka.